Fallin in love,..rasanya nga pernah abis buat diomongin.. Mungkin karena ia selalu hadir disetiap kehidupan. Walo terkadang ada rasa dimana titik jenuh tentang ini sudah tercapai. Tapi, lantas ini menjadi suatu keharusan yang nga ada abisnya buat diobrolin. Mungkin cinta punya keunikan dan sekaligus “keajaiban” sendiri. Uniknya cinta bisa dilihat dan dirasakan dari berbagai sisi. Cerita tentang cinta yang berakhir bahagia sama nikmatnya dengan mendengar kisah duka karena cinta. Selain unik, cinta memang “ajaib”. Bisa mengobati rasa rindu, mampu melicinkan perasaan, dan juga menumbuhkan kreativitas yang tak pernah ada habisnya. Ada suatu pendapat bahwa jika cinta tak diekspresikan dengan aktivitas mencintai, akan berakhir dengan kegelisahan. Itu sebabnya, jangan heran jika akhirnya banyak yang gelap mata, dan nggak sedikit yang miskin ilmu. Dikiranya mengekspresikan cinta, ternyata malah menggeber nafsu. Padahal, cinta, sepertinya ga sama dengan aktivitas mencintai. Bukan berarti cinta ga boleh diekspresikan sama sekali dalam aktivitas mencintai. Nggak juga. Ini sekadar ngasih gambaran bahwa kita jangan keburu menyimpulkan bahwa pacaran adalah jalan pintas untuk mengekspresikan cinta. Nah, kalo pun harus diekspresikan dengan aktivitas saling mencintai, tentunya hanya wajib di jalan yang benar sesuai syariat. Hanya melalui ikatan pernikahanlah cinta bisa dan halal diekspresikan dengan kekasih.

Banyak orang jatuh cinta, dan nggak sedikit yang memendamnya. Mereka cukup merasakan cinta di dalam hatinya. Entah karena tak kuasa mengatakannya kepada orang yang dicintainya, atau memang sengaja ingin memelihara dan merawatnya sampai pada suatu saat di mana kuncup itu menjadi mekar dan berbunga di taman hatinya (cieelahh…).tanpa diekspresikan dalam aktivitas saling mencintai pun cinta tetap akan tumbuh di hati.

Jato cinta emang nga ada yang ngelarang, ga ada pula yang bisa ngelarang ataupun mencegah itu terjadi. Cinta, nga harus selalu saling bersambut. Walo boleh jatuh cinta meski nggak perlu orang yang kita cintai itu mencintai kita juga. Hanya rasanya terkadang nga siap tuk menerima “penolakan” dari orang yang kita cintai. Sakit. Bahkan bisa sakit banget kalo orang yang nolak dekat dengan kita. Kita setengah mati mencintainya, eh, dia malah setengah hidup menolaknya. Siapa yang nga gondok??

Kata iklan “cinta nga bisa nunggu”,.. Emang bener perasaan itu nga bisa ditahan-tahan. Nga bisa dihalangi dengan kekuatan apa aja. Bahkan adakalanya nggak bisa digeser-geser en dipindah-pindah ke lain hati (emangnya pot bunga, digeser-geser?). Maka jangan heran kalo kita ingin rasanya buru-buru menuntaskan rindu kita kepada seseorang yang membuat kita nggak nyenyak tidur siang-malam. Kita ingin agar perasaan kita benar-benar saling berbalas. Kita ingin jadikan ia sebagai dermaga tempat cinta kita berlabuh. Sampai tanpa sadar bahwa kita dikendalikan oleh cinta, bukan kita yang mengendalikannya.

But, i think jangan tergesa untuk ungkapkan cinta. Itu bisa berbahaya bagi yang belum bisa menerima beban kecewa.karena kalo belum kuat menahan bebannya, bisa blunder, bisa sakit hati. (weks *nyindir) Disini pengalaman yang berbicara,..jangan sampai cinta ditolak, dukun bertindak atau teroris bertindak… (sereeem banget booo) …. Kekuatan hatilah yang bertindak… Intinya, boleh saja jatuh cinta. Nggak ada yang larang kok kalo jatuh hati. Wajar aja lagi. But, dont be soo hurry, lantas mau diwujudin dengan aktivitas mencintai bernama pacaran… Kadang nga siap dengan kenyataan, sakit emang. Dalam bayangannya, cinta itu harus bersatu, cinta itu harus saling memiliki, itu sebabnya mau tidak mau cinta itu harus berbalas. Tapi, yaa nga gitu juga…

Lebih baik nikmati saja dulu cinta dengan diam-diam. Tunggu saat nya tiba. Saat di mana kita sanggup menahan beban dan siap ditelan kenyataan. Biarkan ia tumbuh subur dulu. Kalo pun kemudian harus kecewa, ya itu risiko. Tapi minimal, kita pernah mencintai seseorang yang bisa memekarkan kuncup di hati kita dan membuat kita jadi kreatif tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lagian bukankah Bang Ebiet pernah bersenandung, “sebab cinta bukan mesti bersatu…” Ehm, pantesan seorang kenalan saya pernah bilang ke saya waktu curhat: “cinta pertama saya bukan dengan istri saya, tapi saya masih inget sampe sekarang gimana perasaan saya waktu mencintai teman saya itu. Karena itu cinta pertama, tapi ternyata nggak jadi…” Nah lho!

Itu sebabnya, banyak orang sekadar “cinta sepihak” dan memendamnya dalam hati. Karena tak berniat untuk mengungkapkannya. Tapi ternyata aman-aman aja. Jelas, ia tidak merasa bersalah. Baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Mungkin ini tipe orang yang seperti digambarkan dalam lagunya bang Ebiet G. Ade, “apakah ada bedanya”: “cinta yang kuberi sepenuh hatiku, entah yang kuterima aku tak peduli… Aku tak peduli.. Aku tak peduli” (ini bukan putus asa apalagi patah arang, tapi sekadar mengungkapkan betapa masih ada orang yang sebenarnya ingin total mencintai dan tak peduli dengan balasannya dari orang yang dicintainya. Ini persepsi saya, dan saya ambil sebagian lirik saja dalam lagu itu. Karena saya yakin Bang Ebiet punya maksud lain dengan menuliskan lagu tersebut)

Buat aku, kesabaranku sudah habis tuk memendam rasa itu lebih lama lagi…buat kalian yang ternyata mempunyai rasa pada sang sahabat, persahabatan lebih abadi daripada rasa ini.. pendam saja rasa itu hingga…entah sampai kapan.. Bagi saya hati yang sudah lelah dan tak bisa menunggu lagi sudah tak bisa dipendam lagi..yah..menerima sakit hati ini dan harus sanggup menerima kenyataan dan beban perasaan ini.. Nasi sudah menjadi bubur…persahabatan ini sudah ternoda…it shouldn’t be happend,.. Damn!!!

Semua orang bilang lupakan saja dia klo hanya buat ku sakit,…tapi, entah mengapa ada satu keyakinan di hatiku..bahwa rasa ku ini adalah rasanya, aku yakin dia lakukan ini karena ada suatu alasan yang aku nga tau dan nga pernah dapet jawabannya…aku belum bisa pulang kehatinya.. Bodoh banget ya, iya gw menjadi bodoh karena mencintainya..tapi, gw nga peduli. Yaa.. Jodoh , rejeki dan maut hanya allah yang tau..

Mencoba melupakan, itu yang akan kulakukan, (walau berat), setidaknya ada rasa lega dihatiku karena aku sudah meluapkan perasaanku padanya.. Aku tak akan meminta jawaban darinya sampai kapanpun… (seperti lagu Bang Ebiet)

Memang niat baik pun belum tentu bisa diterima baik oleh setiap orang…silahturahmi ini entah kapan bisa terjaga lagi…dan biarkan rasa rindu ini terbang bersama angin walau tetap berharap angin dapat membawanya kepada dirinya…