Tiga anak manusia bermain dengan keceriaan seorang bocah. Di belakangnya duduk perempuan yang tengah hamil, menampi beras. Datanglah gadis berjilbab memecah hening. Dialog pun meluncur. “Kak Mira lagi apa?,” tanya gadis itu. “Sedang menampi beras. Banyak batunya nih,” jawab perempuan hamil tadi. Kamera menyorot beras yang tengah dipisahkan dari batu oleh perempuan itu. Terang sekali, beras dan batunya sama banyak, 50:50. Tapi, tak ada gerutu dari perempuan itu. “Beruntung masih ada berasnya,” imbuh perempuan tadi.

Sang gadis menimpali. “Beruntung Bang Azrul memiliki istri seperti Kakak.” Tapi, pujian itu tak membuat perempuan hamil itu tinggi hati seraya membanggakan diri. “Saya juga beruntung punya suami seperti Bang Azrul. Dia tak pernah berhenti berusaha, meski tidak selalu berhasil,” ujarnya.

Semakin terpesonalah sang gadis berjilbab. Dan pembicaraan pun beralih ke pendidikan tiga bocah. “Adik-adik belum sekolah, kan banyak sekolah gratis di sini,” kata sang gadis. “Ya, ada sejumlah sekolah gratis di sini. Tapi, buku-buku dan ongkos berangkat kan perlu duit,” tukas perempuan hamil meringkas hidupnya yang papa. Sang gadis merogoh tas, lalu dipungutlah sebuah amplop putih. “Saya baru dapat honor dari penerbit yang memuat cerpen saya. Kita bagi dua ya Kak,” ujarnya sembari mengulurkan tangan pada perempuan hamil.

Begitulah cuplikan “Para Pencari Tuhan” jilid dua, edisi Jumat pekan lalu (5/9). Bagi Anda penggemar setia sinetron besutan Deddy Mizwar, sudah tak asing lagi dengan Aya, sang gadis yang mendermakan rezekinya pada adegan di atas. Sedangkan Mira? Adakah yang mencermati sosok ini?

Ya…Mira dalam sinetron yang diputar dua kali oleh SCTV di bulan Ramadhan ini, memang bukan siapa-siapa. Dia bukan tokoh utama, seperti Aya dan Azam atau Juki, Barong, Chelsea dan Bang Jack yang merebut perhatian lantaran di situlah rangkaian cerita berawal. Tapi, dari mulut dan sikap Mira, penonton bisa memetik pelajaran. Setidaknya, itu yang saya peroleh dari cuplikan dialog di atas. Apa itu?

Sebuah pelajaran tentang cara dan bagaimana mensyukuri hidup. Mira begitu sadar dengan kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Sang suami terus-menerus mencari kerja (tetap), tapi tak juga mendapatkannya. Dalam pada itu ketiga anaknya sudah masuk usia sekolah. Tapi…ya ampun, untuk makan saja sulitnya minta ampun. Apalagi untuk menyekolahkan ketiga buah hati tersebut!

Namun yang memikat dari Mira, ia bisa berdamai dengan kemiskinan. Dan akhirnya, ia memilih mencukupkan atas setiap pemberian Tuhan kepadanya. Ini sejenis zuhud (mencukupkan diri atas dunia), seperti yang dilakoni para salik (pencari) dalam dunia sufi. Sikap hidup yang ditempa keadaan, tapi juga lahir dari rasa syukur yang jurah.

Masih adakah di antara kita, yang bisa bersyukur saat keadaan ekonomi menghimpit sehingga nyaris menyesakkan dada? Masih adakah di antara kita, yang mampu bersyukur dengan beras yang harus dipisahkan dari bebatuan yang sama banyaknya? Masih adakah di antara kita perangai lemah lembut seperti senyum Mira?

Nun jauh di Basrah, Irak tahun 713 masehi. Pernah ada perempuan suci bernama Rabiah Al Adawiyah. Ia dikenal sebagai pendiri ‘agama cinta’ (mahabbah). Kecintaannya pada Sang Khalik begitu besar sehingga mengatasi kecintaannya pada manusia, bahkan lawan jenis. Seluruh hidupnya diperuntukkan bagi Tuhan. Ia memilih zuhud, dan menolak kemewahan seperti yang dijulurkan sejumlah tokoh kaya yang memintanya untuk jadi istri.

Rabiah, ‘Ibu Para Sufi Besar’ adalah contoh ekstrim dalam dunia sufi. Seperti masa hidupnya, Rabiah begitu jauh dari kita. Tapi Mira, yang diceritakan Deddy Mizwar di PPT, begitu dekat dengan kita. Mira ada di sekitar kita dengan keluhuran budi yang tak tertanggungkan. Kita boleh menoleh ke arah mereka untuk menopang hidup manusia modern yang kian disetir dengan materialisme yang demikian akut. Mira, aku melihat surga dalam senyummu.

sumber: sctv