21 Mar
semua orang butuh “sudahlah…”
semua orang ingin benar-benar bisa bilang “sudahlah…”. apa susahnya berkata “ah, sudahlah…”? sulit jika memang untuk dilaksanakan, ketika sebuah “sudahlah” seharusnya menyudahi semuanya. membiarkan. menerima. melupakan. dan nyatanya tak semudah itu “sudahlah” dilaksanakan. seperti kemarin ketika seorang teman bercerita tentang mantan pacarnya yang sampai hari ini belum bisa ia lupakan. dalamceritanya ia mengungkit semua yang terjadi. dari mulai kenangan buruk hingga kenangan terindah yang membuatnya tak pernahlagi bisa bangkit. lalu saya dengan spontan mengeluarkan kata: “sudahlah…” sudah berlalu maksudnya. dengan beberapa kenangan buruk - sekaligus indah - itu bukankah seharusnya teman saya itu bisa setidaknya berkata “sudahlah” kepada hatinya yang masih mengharap (walau saya sangat mengerti yang indah-indah yang membuatnya tinggal)?
tentu tidak! begitu pasti respon sang teman. saya tidak ingin “sudah”! begitu mungkin hatinya berteriak. makanya setelah berkata “sudahlah…” saya pun bungkam. tidak tau lagi apa yang harus saya katakan untuk setidaknya menghibur dan menenangkan. karena bagi saya “sudahlah…” adalah kata sederhana yang bermakna luas. setiap orang bisa meneruskannya dengan kalimat lain yang lebih memperjelas.
sudahlah… kamu toh menarik, masih banyak perempuan di luar sana yang menanti. atau. sudahlah… dulu dia yang selingkuh, sekarang dia kehilangan kamu. atau lagi. sudahlah… semua sudah berlalu, dia sudah milik orang. atau juga. sudahlah…
semuanya memang “sudah” lalu mau apa lagi?! (mulai kasar).
“sudahlah…” kamu tidak mengerti. lantas sang teman itu akan membalas demikian. makanya setelah berkata “sudahlah…” saya pun bungkam.
source : the
Copyright © September 2007| adelina's site| Hosted by Masterweb!
No comments yet.