By. Danarto

jika engkau mencintai negeri ini, bukalah jendelamu lebar-lebar. sedot oksigen sebanyak mungkin, gosoklah matamu sebersih cermin didanau yang diam mati angin bahkan bayangan pun disuruh pergi. jarum jam yang menghitung detak jantung terlelap sampai muncul galaksi baru di angkasa raya. terbentang negeri dibawah tak kenal lagi namanya, kecuali negeri yang dilupakan. semua jadi ingkar tak mau lagi menyebut nama leluhur karena malu didapur tak ada lagi makanan. orang berbondong-bondong bengong di halte-halte bus entah menghirup apa, limbah knalpot dan pidato yang melahkan disiarkan di televisi.

negeri yang dilupakan oleh anak-anaknya sendiri. negeri yaang semua warganya menjadi hakim. menghardik dan menguasai orang lain. negeri kau sebut apa ketika kejahatan tidak dihukum, langit marah mengirim banjir, tanah longsor, kelaparan, wabah penyakit, badai ,pertikaian antarkeluarga, kecelakaan dan harapan yang hilang. negeri tanpa peta.tak punya cuaca, terlalu besar untuk dikelola tak zamannya lagi memeluk seluruhnya, takut ambruk, padahal modal tak ada, sudah disedot bank-bank diluar negeri,..ooo…angin puyuh yang disemprotklan anak-anaknya sendiri.

hamba membentangkan tangan sepanjang abad, mengira mengaet cakrawala, lautan bernyanyi, hutan-hutan sunyi, dimakan api yang bersemayam dalam almari, entah, entah stelan jas mana lagi yang pantas hamba pakai untuk kondangan malam ini. hamba ini hanyalah,..hanyalah…

oo,.. negeri apapula ini, acap tak tahu kiblat, arah tanda-tanda zaman, yang diramalkan orang-orang suci, yang gentayangan tak dikenali, duduk mencangkung di lapangan parkir, sambil begumam: “hamba hanyalah , hamba hanyalah..”

kamu butuh propinsi mana, aku ambilkan potongan besar, penuh tambang emas dan uranium. masih kurangkah? siapa butuh bagian yang berlimpah minyak, tunjukkan tanganmu, jangan malu-malu, ini zaman reformasi, segalanya bebas untuk diambil alih. semuanya siap untuk didedahkan.

jika engkau mencintai negeri ini, siapa saja harus siap menjadi asap, atau apa, sebutlah sesukamu karena ini negeri yang dilupakan. orang akan lupa siapa yang lewat dan habis diperkenalkan. orang akan mengangguk, ini negeri apa, tak akan tau penderitaanmu, kalian hanyalah selimut yang compang camping.ooo,,rakyat dari negeri hanyalah, negeri hanyalah.”