“Don’t marry the person you want to live with…
Marry the one you cannot live without…”

 

sedang iseng “berselancar” di dunia maya dan memperhatikan “kehidupan sosial orang-orang antisosial” sebuah quote mengundang hasrat untuk meng-copy dan mem-paste-nya di sini.

 

pertama membaca saya masih menganggapnya sebagai cheezy quote.

 

kedua kali di baca, kok saya merasa tersindir. ketiga kali terbaca, mulai mengintimidasi, walau bukan secara negative, tapi cukup mengganggu.

 

dulu… ya, dulu saya pernah sampai di posisi “wanted to marry one person i want to live with”. bertemu dengan seorang laki-laki impian yang segalanya begitu sempurna seperti keinginan saya, mempunyai hubungan selayaknya yang saya idam-idamkan sejak SMA, dan akhirnya terbersit keinginan untuk selalu bersamanya… sehidup semati… janji!

 

tapi janji itu tidak pernah sempat (kita? bukan!) saya ucapkan. dan keinginan saya untuk selalu bersamanya tentu tidak pernah tercapai, karena pada akhirnya dia mengucapkan janji itu bersama perempuan lain. sedih? tentu. saat itu rasanya dunia saya runtuh, tapi toh ternyata itu hanya perasaan saya saja. beberapa hari setelah pernikahannya saya sudah tidak sedih lagi. lantas mulai berpikir dan mencoba menerima bahwa “he’s not the one i cannot live without(?)” - masih dengan tanda tanya sampai detik ini - dan masih sulit untuk mempercayainya. tapi memang begitu kenyataannya. sebuah kenyataan yang dulu tak pernah terpikirkan oleh saya. walaupun kebenarannya, setiap manusia akhirnya harus bisa “live without someone they thought they cannot live without.” dalam menjalani kehidupannya.

 

lalu apa gunanya janji sehidup semati di depan penghulu dan pendeta itu? mungkin… mungkin lho, janji tersebut sebagai penggambaran akan komitmen. cuma komitmen? mungkin cuma itu. “cuma komitment” yang punya efek begitu besar karena membutuhkan kejujuran dan kesadaran diri yang kuat dalam menjalaninya. ini hanya soal komitmen dalam pernikahan. padahal setiap manusia tentu harus punya komitmen kepada dirinya sendiri dalam hidup. setidaknya itu yang ibu saya ajarkan kepada anaknya yang keras kepala ini. dan beranjak dewasa, saya mulai mengerti itu.

 

akhirnya saya bertanya-tanya, sejauh ini apakah pernah ada orang (lain) yang “i cannot live without”? sambil menyeruput hot vanilla latte saya berpikir, memutar ulang memory lama otak saya, membayangkan wajah-wajah mereka yang sepanjang hidup mempunyai hubungan dengan saya, baik yang khusus maupun yang biasa saja. adakah? siapakah? dimanakah? jawabnya… (kecuali ibu saya) saya tidak tau! setidaknya hingga detik saya menulis ini, saya masih belum punya jawabannya. karena menurut saya (yang perasa ini) ketika kita sudah menemukan “someone you want to live with” rasanya hampir sama dengan menemukan “someone you cannot live without”. buat saya, ketika saya ingin selamanya hidup bersama seseorang, itu karena saya memang merasa tidak bisa hidup bila tanpa dia…

 

ah, maafkan saya dan perasaan saya di sore yang mendung ini.

 

satu hal yang pasti, saat ini saya sedang ingin…

 

“Marry the person i want to live with, because i cannot live without him…”
sweet!

 

but only God knows who and when :)

 

 

 

Source : themaya