menjadi yang kedua bukanlah hal yang buruk.

memangnya kamu tidak ingin menjadi nomor 1 di dunia? sebuah pertanyaan pernah dilontarkan seorang teman ketika dia merasa dirinya yang paling hebat dan saya tidak pernah berhasil meraih nomer 1.

Menjadi nomor 1 di dunia. menjadi siapa? menjadi apa? menjadi Presiden? Presiden negara mana? menjadi Presiden pun artinya “hanya” menjadi orang nomor 1 di negara yang memilihnya. dan menjadi nomor 1 di dunia artinya menjadi pemimpin dunia.

bukankah pemimpin dunia (dan akhirat) terbaik adalah Tuhan, ya? dan saya TIDAK MUNGKIN menjadi Tuhan.

seringkali kita “dipaksa dan memaksa” untuk menjadi nomor 1 dalam hidup - baik hidup secara global maupun hidup seseorang. tapi buat saya, menjadi nomor 2 atau dibawahnya (karena saya anak ke 2) bukan hal buruk. karena ketika kita belum mampu meraih posisi teratas itu artinya kita masih diberi kesempatan untuk terus berusaha meraih dan menjadi yang terbaik tanpa mempunyai beban lain, bernama : mempertahankan.

bagi saya, saya tidak harus menjadi si nomor 1 di dunia - atau si nomor 1 di kehidupan orang lain - untuk membuktikan bahwa saya adalah yang terbaik. saat ini menjadi si nomor 1 untuk diri saya sendiri adalah prioritas saya. narsis? tentu!

sewaktu kelas 6 SD dulu seringkali saya “cemburu” dengan teman sebangku yang bisa meraih ranking 1 di kelas. ditambah lagi ketika lulus-lulusan ia pun menjadi juara umum di sekolah. sedangkan saya yang notabene teman sebangkunya bahkan tidak masuk 10 besar. padahal saya kerap berharap kepintarannya menular kepada saya yang pemalas ini.

masuk SMP saya menjadi orang individual dengan ambisi yang cukup besar untuk bisa meraih ranking 1 di sekolah. tapi memang dasar saya seorang pemalas yang senangnya menggambar saja ketika guru sedang mengajar di depan kelas.

duduk di bangku SMU rasa malas saya untuk belajar bahkan semakin berjaya. bersama teman-teman sebaya saya lebih sering pulang sore dan nongkrong di sekolah daripada sekedar menyerap ilmu yang dicekoki guru-guru sejak jam 7 pagi. dan keinginan untuk meraih ranking 1 di sekolah pun tidak lagi ada. satu hal yang sering disayangkan oleh para guru adalah ketidaktertarikan saya untuk sedikit saja belajar hingga mampu meraih ranking yang tinggi.

di bangku kuliah ambisi saya tentang menjadi yang terbaik semakin surut. entahlah saya seperti sudah enggan berusaha menjadi nomor 1 dalam hal akademis. mungkin karena saya sadar bahwa otak saya pas-pasan. saya lebih memilih mendalami pelajaran tentang hidup daripada pelajaran akademis. ini membuat ibu saya seringkali “mengguyur” saya dengan nasihat-nasihat keras tentang betapa pentingnya arti pendidikan dalam hidup setiap orang. saya tidak menyangkalnya, karena saya sangat merasakan betapa sekolah akademis membentuk seorang keras kepala seperti saya menjadi LEBIH keras kepala karena merasa paling tau segalanya. padahal ketika saya mendalami pelajaran tentang hidup… saya menjadi bukan siapa-siapa karena saya memang tidak tau apa-apa ketika menghadapi ujian hidup. dan sayapun belajar untuk menjadi pesimist.

dari vanila lagi nieh..heheh..